Oke, sepertinya waktunya telah tiba. Yah, waktu untuk aku berbagi tentang sebuah cerita kenyataan yang selama seminggu ini mengelilingiku.
Awalnya aku tidak tahu akan kuberi judul apa cerita ini. Awalnya aku tidak tahu harus memulainya darimana. Awalnya aku tidak berniat sama sekali untuk menceritakannya, karena akan berarti aku membiarkan luka itu menganga. Tapi, aku tidak bisa terus-menerus membiarkannya bersarang dalam otakku. Aku harus mengeluarkannya agar bebanku berkurang. Dan disinilah aku sekarang untuk menceritakannya.
Ujian Nasional yang semakin mendekat benar-benar menjadi tekanan. Apalagi setelah ujian itu, akan dihadapi pula yang namanya Tes Masuk Perguruan Tinggi.
Sebuah kata yang bermakna dalam, akan cukup membantu, yaitu PMDK. Kata-kata ini tidak asing lagi. Banyak siswa-siswi yang berbondong-bondong ingin mendapatkan kesempatan ini, apalagi untuk siswa yang memiliki akademik yang baik.
Sampai kira-kira bulan Januari, sama sekali belum ada undangan dari universitas-universitas yang menerima siswa PMDK. Aku mulai belingsatan. Bagaimana jika “universitas yang aku tuju” tidak memberikan undangan itu, karena tidak ada satupun siswa di sekolahku yang berminat tahun kemarin?
Dan yang lebih mengagetkan lagi, ada berita yang mengatakan bahwa PMDK dihapus. Aku benar-benar kaget dan berpikir bahwa kesempatanku berkurang. Hingga akhirnya, berita itu terabaikan dengan adanya berita baru.
New Version PMDK !
PMDK sekarang disebut SNMPTN UNDANGAN. Seluruh siswa bisa memilih dimana pun universitasnya, walaupun universitas itu biasanya tidak mengirim undangan ke sekolah yang bersangkutan. Siswa yang bisa mendapatkan undangan hanya siswa-siswi tertentu, contohnya sekolahku yang memiliki akreditasi A, mendapatkan kesempatan dapat mengirimkan 50% siswa terbaik di kelas, dan Alhamdulillah, ketika itu aku termasuk salah satunya. Dari kelas kami, hanya 13 orang yang mendapatkan undangan karena jumlah siswa kelasku 26 orang. Sempat tersebar sedikit konflik karena hal tersebut. Banyak juga siswa yang tidak mendapatkan undangan sangat bersedih, beruntungnya aku ketika itu.
Pertama-tama, kami (13orang,red), menunggu sekolah menyelesaikan data-data yang diperlukan dalam persyaratan SNMPTN UNDANGAN. Lalu kami mendapatkan masing-masing sebuah PIN yang dipergunakan untuk membayar uang pendaftaran di bank. Aku langsung Login setelah Papaku selesai membayarnya, memilih jurusan, dan yang terakhir mencetak kartu pendaftarannya. Tugasku selesai. Dan tinggal menunggu pengumuman 18 Mei 2011 nanti.
Mungkin hal wajar jika orangtua membanggakan anaknya kepada orang lain. Begitu juga yang dilakukan Papaku. Ia begitu membanggakanku. Tapi, terkadang aku menjadikannya beban, seperti ketika ada saudara atau tetanggaku yang bertanya,
“Endang nak ngelanjuti kemano abis lulus?”
Papaku langsung menjawab,
“Ikut Debby dio nih, kedokteran jugo.”
Apa yang bisa aku katakana? Berkata tidak? Tapi, bukan berarti aku tidak mau masuk kedokteran, aku hanya kurang pede dengan kemampuanku yang masih sedang-sedang saja, apalagi sangat banyak orang yang berminat dan memiliki kemampuan yang lebih dariku untuk masuk kedokteran.
Entah kenapa, aku melihat guratan keyakinan dalam diri Papaku, yang sayangnya tak sepenuhnya aku miliki sekarang. Aku selalu berkata,”Pa, belum tentu Endang lulus undangan tu, jadi jangan beharap nian.” Ayahku hanya tersenyum dan terkadang memarahi aku karena ketidakyakinanku.
Aku begitu santai menunggu hasil undangan itu, entah karena apa. Karena aku yakin lulus, atau karena sebegitu tak yakinnya aku lulus? Aku sungguh tidak mengetahuinya.
Tanggal 17 Mei tiba. Hari itu adalah tepat satu hari setelah kelulusan dan tepat satu hari sebelum undangan diumumkan. Tapi, di pagi hari sudah ada berita bahwa pengumuman akan dikeluarkan di website resmi SNMPTN pukul 19.00 WIB. Jantungku baru berdegup kencang. Was-was dengan hasil yang akan aku terima nanti.
Hari itu, aku habiskan di warnet karena aku menjaga warnet keluargaku. Pukul 5 sore, ketika aku sedang asyik membaca-baca tweet-tweet teman-temanku, aku dikagetkan oleh sesuatu, yaitu sebuah tweet yang membagikan link untuk hasil SNMPTN Undangan. Langsung saja aku klik link itu. Dan muncullah tampilan yang di dalamnya menyuruhku untuk memasukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahir. Aku sempat lupa dengan nomor pendaftaranku, tapi akhirnya aku ingat bahwa aku memasukkannya ke dalam kontak hapeku. Tanggal lahir pun tak lupa aku masukkan, dan setelah aku meng-klik “Lihat”, yang keluar adalah :
Dan detik itu juga aku merasa petir datang menerpaku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku terdiam terpaku di depan computer. Untungnya, ketika itu warnetku sedang sepi, sehingga tak ada yang memperhatikan gerak-gerikku. Aku masih membisu, lalu tiba-tiba rasa sakit menjalari tubuhku.
Detik berikutnya, aku meraih hapeku dan mengetik sebuah sms.
“Ma, dak lulus endang undangan itu.” Orang pertama yang harus kuberitahu adalah orangtuaku. Orang yang harus aku banggakan, tapi detik itu aku mengecewakan mereka.
“Kan besok pengumumannyo?”
“Idak, Ma. La ado pengumumannyo.”
“Yo sdh. Dak papolah, Nak, yo.”
Airmataku langsung berlinang. Aku tidak dapat menahannya. Betapa aku mengecewakan mereka.
Selanjutnya,aku memberitahukan sahabatku, Indah, lewat message Twitter. Ia bilang, link itu tadi adalah hackingan. Aku tak perduli, tapi link itu memberitahukan sesuatu tentang masa depanku.
Berikutnya, aku memberitahukan teman dekatku, Zamzami, melalui sms. Ia tidak membalasnya.
Tiba-tiba, dengan ucapan Indah tadi, terbersit sedikit harapan di depanku. Aku berhenti menangis, dan langsung menuju Masjid untuk menjalankan Sholat Maghrib. Disana aku berdoa dengan sepenuh hati untuk keajaiban yang mungkin akan menghampiriku.
Akhirnya, Zame’, panggilan biasaku dengan Zamzami, membalas smsku. Beruntungnya aku memiliki teman-teman yang perduli denganku. Ia menyemangatiku dan mengatakan bahwa itu belum keputusan final. Aku sempat tidak membalas smsnya karena balasannya yang sebenarnya menyemangatiku itu, terlihat membanding-bandingkan aku dengannya. Betapa inginnya dia mendapatkan undangan, betapa dia ingin passing gradenya naik dari biasanya, dan bla bla bla. Mungkin ada sepuluh sms yang tidak aku balas karena kejengkelanku dengannya. Dan akhirnya aku berpikir,
”Ya Ampun Endang, temanmu itu berniat menyemangatimu, tetapi kamu mengacuhkannya, apa itu balasan yang pantas untuk seseorang teman yang perduli denganmu?”
Kemudian, aku langsung membalasnya dan mengucapkan banyak terima kasih.
Aku menanti pukul 19.00 WIB. Menunggu satu jam itu bagaikan satu tahun untukku. Betapa seringnya aku melihat jam dan aku rasa jam itu berdetak sangat lambat.
Dan pukul 19.00 akhirnya tiba. Loading yang sangat lama menjengkelkanku. Saat itu juga, beberapa temanku menanyakan bagaimana hasilnya. Aku hanya dapat menjawab “belum.”
Akhirnya, hasilnya aku dapatkan. Sayangnya, sangat tidak sesuai dengan harapanku. Sama saja dengan hasil yang pertama :
Airmata kembali keluar dari pelupuk mataku. Sekali ini airmatanya keluar terus-menerus. Aku terisak, dan tak kuasa menahan keluarnya airmataku. Hasil finalnya sudah keluar dan tak ada yang bisa aku lakukan lagi. “Kesuksesan yang tertunda” ini benar-benar membuatku terpuruk ke dalam jurang yang paling dalam. Aku terus menangis dan tak mau berhenti. Apalagi, ketika aku melihat Tweet teman terbaikku, teman terdekatku, dan teman sehatiku, Wahyu Indah Astriani, berbunyi seperti ini, “Alhamdulillah…..(kurang lebih seperti itu).”
Aku menangis kembali. Yah, dia lulus seleksi. Kalian tahu kan bagaimana rasanya jika kita tidak lulus, sedangkan teman dekat kita bahagia menerima kelulusannya? Aku menangis dan tak terhingga berapa kali aku mengusap airmata itu. Aku tidak boleh iri, aku tidak boleh marah, aku tidak boleh cemburu. Aku sama sekali tidak boleh cemburu, karena ia pantas mendapatkannya. Dia bukan hanya LUCKY, tapi dia juga pintar, dan sangat-sangat-sangat pantas mendapatkannya. Itu adalah keputusan terbaik yang diberikan Allah, mungkin jalanku bukan disini.
Aku mengirimkan sms kepada Indah dan menanyakan bagaimana hasilnya, awalnya dia tidak membalas smsku, tapi setelah aku mengulangi lagi mengirimkan sms itu, dia membalasnya.
Kurang lebih seperti ini isinya :“Iyo N, indah lulus. Jangan sedih yo N. kalo emas, dimano pun dio masih tetep emas. Indah dak bayangi kalo apo yang N rasoi itu trjadi samo Indah, pasti Indah bakal lebih down lagi daripada N. Semangat yo Sayang :* “
Aku menitikkan airmataku kembali. Ya Allah, apa yang aku pikirkan dari tadi? Iri dengan sahabatku sendiri? Sedih melihat hasil sahabatku jauh lebih baik dariku? Astaghfirullah, begitu picik pikiranku. Aku menangis sejadi-jadinya. Yah, sekarang aku tahu. Aku senang melihat temanku beranjak menuju kesuksesannya. Aku bahagia melihat temanku dapat membahagiakan orangtuanya, walaupun ketika itu aku dalam keadaan bersedih. Aku berhasil menepis perasaan jahat itu. Aku tersenyum. Aku dan Indah punya jalan sendiri-sendiri. Aku sekarang merasakan apa yang dirasakan sahabatku, Oktarianti Nur Shabrina, ketika dia tidak mendapatkan poltek. Beginilah rasanya kegagalan. Jujur, aku tak cukup banyak mendapatkan kegagalan, jadi ketika kegagalan ini ada di depanku, aku kaget, dan tak terkira rasanya.
Sepulangnya aku dari warnet, aku langsung menuju kamarku dan menangis kembali. Aku tidak tahu, aku tidak bisa menahannya, aku tidak tahu apa yang membuat aku begitu sedih dengan hasil itu. Aku tidak menyahuti panggilan kedua orangtuaku. Aku hanya ingin sendiri.
Mengapa aku begitu rapuh dengan keputusanmu ini Ya Allah? Tidakkah aku bodoh menangisi hal ini? Betapa pendeknya akalku, sehingga aku seperti menghadapi kiamat yang akan datang? Cita-citaku harus terus aku gapai, impianku tak berhenti sampai disini. Apa dunia kiamat jika aku tidak lulus undangan? Jawabannya tidak, tidak sama sekali. Cukup banyak temanku yang mengirimkan sms menanyakan bagaimana hasil undangan, seperti Ocha, Iin, Nada, Ayuko, Devi, Ayu, Tanaya, Mega, dll. Betapa sakitnya ketika aku harus membalas “tidak”. Semuanya akan lebih baik kalau aku bisa membalas “iya”. Mataku semakin berat. Jaketku basah karena airmata yang jatuh berlebihan.
Ketika kita “down” pasti orang-orang yang peduli dengan kita akan datang. Hal itu aku temukan malam itu juga. Sahabatku, Zame’, meneleponku. Memang tidak sepenuhnya untuk menghiburku, tetapi untuk berbagi cerita. Tapi, itu cukup untuk meredakan rasa sedihku malam itu. Dia cukup menghiburku.
Tetapi, di tengah malam, ketika aku mencoba berbicara dengan-Nya, aku kembali menangis. Aku mengadukan semua isi hatiku. Betapa inginnya aku lulus dan membahagiakan orangtuaku. Betapa sejujurnya tak ikhlas aku dengan hasil yang ada. Betapa aku benci dengan diriku yang bodoh ini.
Sampai keesokan harinya, mataku pun bengkak.
Keluargaku juga menghiburku. Senangnya aku mendapatkan sambutan yang tak terduga. Papaku tidak marah sama sekali. Tak terlihat raut kecewa di wajahnya. Padahal, yang aku takutkan akan hasil itu hanyalah reaksi darinya. Betapa yakinnya Papa denganku. Keluargaku membuat aku yakin bahwa hasil itu tak seburuk yang aku kira.
Saat berhadapan langsung dengan Indah, sang pemenang, adalah moment yang sangat menyakitkan awalnya. Aku kembali menangis di depan teman-temanku. Ada Indah, Ocha, Zame’, Desi, Oci, Mega, Braja, Dodi, Sopyan, dan lain-lain disana. Benar-benar memalukannya aku! Menangis di depan umum, tepatnya di kantin sekolah. Tapi, aku tak perduli, aku terus mengusap mataku dengan tisu. Dan itu terakhir kali aku menangis untuk undangan!
Berikutnya, di depan guru, aku dapat sambil tersenyum mengatakan bahwa aku “belum” lulus undangan. Dapat tersenyum mengatakan aku tidak lulus undangan kepada tentorku di Gilland beserta teman-temanku disana. Dapat kembali menjalani hariku, dapat kembali melanjutkan kerja kerasku untuk meraih impianku yang sempat tertunda. Dan dapat kembali tersenyum menjalani hari-hariku.
Ini bukanlah akhir dari segalanya. Seperti yang aku katakan kepada Ocha, ketika Allah menutup satu pintu, pasti akan ada pintu lain yang terbuka, kesempatan lain yang akan aku raih. Karena TIDAK LULUS UNDANGAN, bukan berarti dunia kiamat. Masih sangat banyak jalan lain yang menungguku untuk meraih MASA DEPANKU.
Nb : Special for my Life (Keluargaku), My Best: Indah,Ocha, Zame’, Mega, Yosi, Iin, Nada, Debby, Cicit, Tanaya, dan teman sekelasku yang lain, serta orang-orang yang memperhatikan dan perduli kepadaku. I love you :*



0 komentar:
Posting Komentar