Malam itu, sebenarnya bisa merubah banyak hal.
Malam itu, sebenarnya bisa tak berarti apa-apa.
Tapi, malam itu juga, seluruh pikiranku entah singgah kemana saja.
Ada sisi lain dari dirinya yang tiba-tiba terkuak malam itu. Aku tak ingin langsung membuat keputusan, atau berpikir negative tentangnya, tapi “sesuatu” itu memaksaku mau tak mau harus memandang ia seperti itu.
“Sesuatu” itu membuat moodku tiba-tiba menjadi sangat tak bersahabat. Saat batuk dan flu melandaku pun, “sesuatu” itu membuatku tetap dengan santai memakan gorengan demi gorengan di perjalanan pulang sambil air mata menetes di pipiku.
Mungkin ini hal kecil, tapi karena itu kali pertama untukku, maaf jika aku menyikapinya terlalu berlebihan.
Sebenarnya malam itu, aku juga tak ingin membahasnya. Tapi, rasa penasaranku terusik, rasa sakitku meluap-luap tanpa bisa aku tahan.
Dan ternyata, bertanya denganmu, juga tak menjawab semuanya. Malam itu, aku tetap tidur dalam suasana hati tak menentu, rasa penasaran yang bersarang, dan airmata.
Keesokan harinya, mungkin tak bertemu denganmu adalah keputusan awal terbaik. Apalagi, kondisiku yang memang tak mendukung untuk menyelesaikan masalah “sepele” ini.
Tapi, itu bukan berarti aku tak membutuhkan penjelasan darimu. Aku sangat membutuhkannya. Aku tak merasa nyaman jika rasa penasaran itu terus menghinggapiku. Aku diam, aku cuek, aku mencoba tidak membahasnya denganmu, bukan karena aku bisa langsung saja melupakannya, tapi aku ingin kamu inisiatif untuk menjelaskannya kepadaku, agar aku tahu, jika kamu memang tahu kalau aku marah, marah semarah-marahnya marah!
Bukankah wajar jika aku cemburu?
Aku merasa sulit sekali bersikap biasa, jika jauh di dalam lubuk hatiku, masalah itu belum sepenuhnya selesai.
Aku dari awal mencoba mencintaimu setulus yang aku bisa.
Dan apakah salah jika aku juga menuntut itu darimu?
Bukan seperti ini.
Maaf.
Aku menyayangimu.
visitors
Followers
Blog Archive
Sabtu, 17 September 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar